Data inflasi Jepang turun ke 3,7%, berpotensi meningkatkan daya saing ekspor. Namun, fokus The Fed tetap pada inflasi dan ekonomi AS dalam menentukan arah suku bunga di 2025.
Pada pagi ini, Bank of Japan (BoJ) merilis data inflasi tahunan (YoY) untuk Februari 2025, menunjukkan penurunan dari 4,0% menjadi 3,7%. Penurunan ini mencerminkan moderasi tekanan inflasi di Jepang.
Penurunan inflasi di Jepang dapat berdampak positif pada hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat, karena inflasi yang lebih rendah dapat meningkatkan daya saing produk Jepang. Namun, dampaknya terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) kemungkinan terbatas. The Fed cenderung lebih fokus pada indikator domestik, seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS, dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Pada pertemuan FOMC baru-baru ini, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50% dan mengindikasikan dua kali pemotongan suku bunga pada tahun 2025. Namun, beberapa pejabat The Fed menunjukkan pandangan bahwa pelonggaran lebih lanjut mungkin tidak diperlukan, terutama jika inflasi tetap tinggi. Dengan demikian, meskipun tren inflasi di negara lain, seperti Jepang, dapat memberikan konteks tambahan, keputusan The Fed kemungkinan besar akan tetap bergantung pada data ekonomi domestik.

Investor dan pelaku pasar sebaiknya terus memantau perkembangan data inflasi domestik dan global, serta pernyataan dari pejabat The Fed, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter di masa mendatang.